Mei 08, 2009
SWT ...
Desember 06, 2008
FOTOKOPI vs FOTOCOPY
Kalau sebelumnya saya pernah ngoceh sedikit tentang Bahasa Jawa, sekarang saya juga ingin ngoceh tentang bahasa lagi, Kali ini bahasa nasional, Bahasa Indonesia.
Langsung saja ke pokok permasalahan. Menurut saya, Bahasa Indonesia ini meskipun masih terjamin penggunaannya tetapi kayaknya udah sekarat. Gimana nggak, pemuda-pemuda (bahkan orang tua) malah lebih bangga menggunakan kata dalam istilah asing, padahal padanan katanya sudah ada dalam Bahasa
Contohnya aja Fotokopi. Pasti jarang yang mau menulis menggunakan kata itu karena lebih memilih kata yang lebih “keren”, yaitu Fotocopy. Kebetulan saya punya rental kecil-kecilan di rumah, dan ketika ada seseorang meminta untuk diketikkan (formatnya sudah dia buat sendiri)
Nah, ketika saya cetak dan dibaca oleh sang pelanggan, dia nggak mau dan minta dicetak ulang dan semua kata Fotokopi harus diganti dengan kata Fotocopy. Waktu saya tanya kenapa, dia menjawab nanti bisa salah paham, dan nggak keren katanya.
Waduh, kata-kata asing yang udah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia aja masih dipakai dalam bentuk aslinya. Gimana kata-kata asli dari Indonesia-nya? Pasti udah pada hancur tuh! Ayo dong, pemuda
Kesimpulannya, Jangan seperti yang sudah-sudah. Masih ingat donk, ketika kebudayaan kita (seperti Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange) akan direbut, hampir seluruh masyarakat demo sambil teriak-teriak mengutuk
Kortek (Korban Teknologi)
Entah kenapa, sebulan belakangan ini saya menjadi manusia yang sangat boros. Uang saku saya dipastikan akan habis di hari itu juga. Padahal sebelum-sebelumnya saya selalu bisa menyisakan uang saku. Kalau sekarang, jangankan sisa, habis tanpa menggerogoti uang “cadangan” pun sudah untung.
Uang Cadangan? Itu, uang yang memang dari dulu saya kumpulkan. Bukan, saya tidak mendefinisikan uang itu sebagai tabungan, karena uang itu selalu saya bawa di dompet saya. Jadi, untuk para pencopet, jangan lupa curi dompet saya kalau ingin uang tambahan buat makan, oke?
Nah, sekarang, apa sebetulnya yang menyebabkan saya menghabiskan uang saku saya? Ohoho, ternyata benda itu bernama internet. Dalam seminggu, bisa aja saya ke warnet dan menghabiskan waktu hingga 6 jam per minggu, atau satu jam per hari. Padahal, sebelum wabah ini, saya hanya menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam per minggu di warnet.
Nah lo! Padahal kakak saya sudah berbaik hati memasang internet di rumah, tapi kenapa uang saku saya malah saya habiskan untuk ke warnet? Pertanyaan yang ini pun belum bisa terjawab. Tapi indikasi awal kelihatannya menunjukkan kalau saya sudah kecanduan internet dan menjadi salah satu korban teknologi.
Padahal, kalau dipikir-pikir, di waktu OL di warnet pun saya hanya membuka situs itu-itu saja. Saya jarang googling, karena memang jarang ada hasrat untuk mencari sesuatu. Sehingga, hampir dipastikan saya hanya membuka paling-paling
Trus, gimana donk! Adakah seseorang yang sudi memberikan solusi agar saya dapat melepaskan diri dari virus bernama internet ini???
Desember 05, 2008
Fakta-fakta (nggak) Penting tentang Kartu

- Ada 19 kartu yang tidak simetris dalam satu set kartu, mereka adalah : 1, 3, 5, 6, 7, dan 9 dari Jenis Clover, Heart, serta Spades. Khusus untuk 7, jenis diamond juga tidak simetris.
- King Heart adalah satu-satunya King yang kedua tangannya terlihat.
- Tangan kanan King Diamond tidak memegang senjata dan senjatanya bukan pedang.
- Queen Heart memegang bunga dengan cara yang paling anggun, yaitu diselipkan diantara jari telunjuk dan jari tengah.
- Queen Diamond adalah satu-satunya Queen yang memegang bunga bermahkota delapan.
- Jack Keriting adalah satu-satunya Jack yang arah menolehnya tidak sama dengan Queen dan King dari jenis yang sama.
- Jack Heart tidak memegang senjata, sementara di tangan kanannya dia memegang sesuatu, mirip tisu!
Gerhana Matahari mampir lagi!!
Kita yang di Jawa Timur? Yah, mungkin kita masih bisa sedikit merasakan gerhana matahari itu. Tapi kayaknya nggak sampai selesai, soalnya waktu matahari tenggelam, bulan masih menutupi matahari. Jadi doakan saja cuaca cerah pada waktu itu, soalnya konon bertepatan dengan Imlek ... Imlek khan sering hujan.
Desember 01, 2008
That (5#!7) Formula
Dalam pelajaran Matematika, Kimia dan Fisika, kita sudah dijejali puluhan rumus sejak Sekolah Dasar. Rumus itu ada yang berguna sampai kapanpun, ada juga yang bahkan saya ragukan kegunaannya dalam kehidupan. Lalu kenapa kita begitu keras menghafalkan rumus-rumus itu?
Dapat nilai bagus, jelas. Bisa lulus UN dengan nilai terbaik, tentu saja. Persiapan menghadapi berbagai tes seperti SNMPTN, pasti. Tapi, kenyataannya, metode kita menghafal rumus itu benar-benar aneh. Ditelan bulat-bulat tanpa tahu, kenapa begini, kenapa begitu? Jadi benarlah kata teman saya. Jika kita mendapat satu rumus, pasti tiga rumus akan hilang dari otak kita. Agak kasar, memang. Tapi, sedikit banyak, benar juga jika kita terus menghafalkan rumus satu persatu.
Saya sering bingung dan pusing sendiri ketika ada yang menghafalkan rumus satu persatu, sambil diucapkan keras-keras. Nggak bisa tenang dikit apa? Lagian, emangnya bisa masuk dengan efektif kalo kayak gitu? Lucunya, banyak rumus yang sebenarnya bisa diwakili oleh satu rumus saja, namun tetap dihafalkan semuanya. Mau contoh?
Logika Matematika. Saya masih ingat, teman-teman saya sekelas sangat ribut menghafalkan, B dan B jadi B, B dan S jadi S, Jika B maka S kesimpulannya S, dsb (mohon maaf, saya tidak bermaksud mengejek teman-teman saya. Saya hanya ingin mengkritik metode mereka). AAARRRGGH! Saya sering pusing sendiri kalau sudah pada teriak kayak gitu.
Padahal, keempat logika itu (dan, atau, jika maka, jika dan hanya jika) bisa dihafalkan dan dikompres dalam empat kalimat, tanpa harus menghafalkan B dan S nya. Setidaknya, itu metode yang saya lakukan. Logika “Dan”, saya kompres menjadi “Hanya benar jika keduanya benar”. Otomatis, diluar keadaan itu, tentu saja salah. Logika “atau”, saya singkat menjadi “harus ada minimal satu kebenaran”. Logika “Jika maka”, (yang ini agak rumit) saya singkat menjadi “Jika syarat benar, kesimpulan tidak boleh salah”. Artinya, Jika B maka S, jadinya adalah S. terakhir, “jika dan hanya jika”, saya singkat menjadi “Kedua pernyataan harus sama”. Artinya, sama-sama benar atau sama-sama salah agar menghasilkan nilai “B”.
Itu masih satu bab. Masih banyak bab lain yang cara menghafal kita terlalu boros. Contohnya Trigonometri, Perpangkatan, Logaritma, Gerak, Energi, dsb. Kenapa sih, kita selalu mempersulit diri?
Ingat, hampir semua rumus itu tidak akan kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari (hampir lho!). Penjual cabe tidak akan repot-repot untuk mengukur sudut dan kemiringan, gradien serta jari-jari wadah agar cabenya muat (kalau ada yang mau, ya nggak tau. Tapi, masa’ ada sih?)
Jadi, jangan menyiksa diri untuk menghafalkan mereka.
PAK DHE vs BU DHE
Apakah yang menyebabkan angka golput begitu tinggi? Bisa saja karena jauhnya rumah pemilih dari TPS (ini benar-benar terjadi di lingkungan saya.
Ehm, ehm. Tapi saya tidak ingin ngoceh mengenai hal itu. Saya ingin ngoceh tentang hasil Pilkada itu sendiri. Ketika jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, seluruh petugas Quick Count mulai bergerilya dan melaporkan hasil penghitungan kepada TV tempat mereka bekerja.
Hasilnya, setelah menunggu sekitar dua jam, “Bu Dhe” Khofifah dan pasangannya Mudjiono dinyatakan sebagai pemenang dengan selisih sekitar 0,3 %. “Bu Dhe” Khofifah dan tim suksesnya pun bersorak gembira menyambut hasil ini. Padahal, entah mereka tahu atau tidak, toleransi kesalahan dari penghitungan ini biasanya sekitar 2 persen, artinya hasil ini rawan salah.
Benar saja, ketika KPU mengumumkan hasil pilkada pada Rabu,
Bu Dhe Khofifah dan tim suksesnya pun mencak-mencak. Mereka tidak terima dengan berbagai alasan, dan yang paling lantang adalah hasil quick count. Bu Dhe sempat berkata kalau ada kejanggalan dalam hal ini, sebab sebelum pemilihan, pemerintah terus mengklarifikasi bahwa Quick Count bukan jaminan. Kenyataannya memang bukan. Alasannya, coba baca dua paragraf sebelumnya.
Yang jelas, Bu Dhe dan tim sukses tidak puas dan menuntut masalah Pilkada Jatim ini dibawa ke Mahkamah Konstitusi pada tanggal
Hilanglah simpati saya kepada Bu Dhe yang tercinta ini. Sekarang, saya merasa kalau Bu Dhe ini adalah orang yang (agak) gila jabatan. Tidak siap kalah. Dan, yang terpenting, kejadian ini menunjukkan kalau orang
Lalu, bagaimana dengan hasil akhirnya? Tunggu saja tanggal 3 Desember 2008. Pada hari itu akan keluar Keputusan MK tentang sengketa Pilkada Jatim dan pada hari itu pula saya akan mengedit tulisan ini sesuai hasil keputusan. Andai Pak Dhe menang, fine. Saya memang memilih dia waktu itu. Andai Bu Dhe yang menang, ya sudah. Selamat atas keberhasilan anda. Semoga anggapan saya tentang anda yang gila jabatan itu tidak benar.